Sabtu, 11 Agustus 2012

What is Friends? (chapter 1)

       aku punya cerita, dan setiap orang punya cerita. cerita singkatku yang singkat namun tak pernah ku singkat di hati . Cerita sebuah persahabatan. Dimana kejujuran lah yang harus melandasinya


          Tas biruku kini sudah penuh pakaian dan baju-baju ku yang sudah ku kemas rapi. Jadwal keberangkatan kereta hari ini  pukul 14.00 yang berarti 30 menit  lagi. Aku berpamitan pada kakek dan nenek yg sedari tadi  menungguku di halaman. Raut sedih mereka mulai terukir di  wajahnya seolah2 berat untuk  melepaskanku. Hari ini aku hendak pindah ke kota kelahiranku banyuwangi. Kota dimana dulu aku menjalani sekolah dasar , namun saat SMP aku pindah ke malang karena suatu alasan. Empat bulan lalu aku sudah menduduki bangku salah satu SMA negri di Malang. Namun di pertengahan semester pertama ini aku di haruskan pindah karena suatu hal yang tak perlu ku ceritakan.
      "hati hati ya nak'' ucap kakek dan  nenek nyaris bersamaan saat aku mencium kedua tangan          mereka.

Sedih sekali meninggalkan kota yang sudah tiga tahun lebih ku tinggali. Tapi aku berusaha menerimanya, lagi pula Banyuwangi juga kota yang aku sukai. Dan jarak antara malang Banyuwangi juga tak  terlalu jauh. Aku coba menenangkan diri dengan gumaman gumaman dalam hati yang ku buat sendiri. aku berusaha berpikir positif.
''sudah sampe mas'' suara pak supir angkot membuyarkan lamunanku.
     
         Akhirnya aku sampai di gerbang stasiun kota Malang. Suasana seperti keadaan stasiun
menuju Hogwart , penuh dengan anak-anak remaja yang masing masing membawa tas.

          Sampai jumpa kota Malang. sampai berjumpa lagi ,sampe jumpa kakek,nenek. Seiring laju kereta yang semakin cepat, ku lempar pandanganku keluar melalui jendela kereta yang kusam. Tak terasa pipiku basah. Ah..... seharus nya aku tak se sedih ini ini. Hanya saja aku belum siap. Cepat - cepat ku seka air mataku sebelum orang lain menyadarinya.

           Kurang lebih 7 jam aku  berada di dalam kereta. Tak lama lagi aku akan sampai di stasiun karang asem. Ku lirik jam di ponsel ku menunjukan pukul 22.12. Perjalanan ku tak begitu terasa melelahkan karena aku lebih banyak tidur dalam kereta. Mas Firman sudah siap menungguku di
depan stasiun dengan motor jagoannya. Sepupuku itu bisa aku kenali dengan mudah di tengah kerumunan , karena dia mengenakan jaket kesayangannya yang ku lihat terakhir kali beberapa bulan lalu saat dia berkunjung ke Malang.
'' Gimana, capek nggak?'' tanya mas Firman sambil menepuk nepuk punggungku.
'' capek banget mas , Mas aja ya yang nyetir '' aku memasang tampang letih yang berlebihan untuk meyakinkan mas Firman . sebelum nya padahal aku sudah janji untuk aku yang di depan saat dari stasiun. Tapi, apa di kata tenaga berkata lain.

           Mas Firman memang lihai dalam mengendarai motornya. Hanya dalam beberapa menit saja aku sudah tiba di halaman rumah. Pohon jambu, pagar hijau dan rimbunan bunga sepatu. Persis saat aku tiga tahun lalu  meninggalkan tempat ini. Sedikit berbeda memang ke adaan nya tapi itu hanya sedikit perubahan.
''kasur,aku rindu kamuuuuu'' bisikku kecil sambil jalan sempoyongan.  mas Firman yang mendengar tersenyum mendengar denguh ku.

          Malam itu begitu sunyi. Jam menunjukkan pukul 24.02 namun mataku belum kunjung  terpejam. Mencoba menerawangi apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Baru saja beberapa jam aku di kota ini. Bayangan kakek,nenek dan teman-teman mengusikku untuk segera merindukan mereka.

''Huh....,tempat baru lagi,teman  baru lagi,suasana baru lagi''. Gerutuku dalam hati.
Aku mengeluhkan diriku sendiri. Aku tipe orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru dengan cepat. Tapi, lagi lagi harus seperti ini. Walau aku sering menghadapi keadaan ini. Tetap saja aku tak bisa mudah melakukannya.

        Detak jam dinding seperti meretakkan dinding kamar.  Ku lirik dan sudah  melewati tengah malam. Tapi masih saja aku tak bisa tidur. Segera aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu untuk sholat. Setelah sholat  yang begitu tenang, akhirnya mata ini bersahabat denganku. Samar samar ku dengar suara yang menggema di pikiran. Mungkin itu suara suara alam mimpi yang memanggil ku.

***
        Hari senin pun tiba, hari yang paling tidak aku tunggu. Hari yang kurasa datang begitu cepat dari
hari senin senin sebelumnya.
''cepetan Al'' teriak mas Firman  dari ruang tamu.
''iya mas, bentar''
Akhirnya aku menyebutkan namaku. Namaku Aldy. Nama yang sudah di pakai banyak orang namun setiap pemiliknya berbeda. Seragam putih abu-abu ku tampak begitu rapi dan putih bersih. Baju yang aku beli tiga hari lalu itu seolah-olah terlalu mencolok saking bersihnya. Sepatu pun sudah di kaki. Tak lupa kacamata bingkai hitamku sudah menempel di wajahku.
''hmm.....aku keren juga'' bisik ku kecil memuji diriku sendiri. Walau
aku begitu menyadari aku bukanlah orang yang keren. Namun tak sedikit pula yang menganggapku keren :) . Kalau orang Banyuwangi ada istilah '' segoro sopo nguyahi'' . hahahaha.


       Dag..dig..dug saat aku memasuki gerbang sekolah yang berlambangkan sayap biru itu. Ya, SMA 1. Saat itu sekolah ini adalah sekolah favorit di kota ini. Gerbang yang indah berwana biru  itu seolah-olah jadi hitam kelam. Di dalamnya seperti keluar lidah-lidah api yang membuat aku makin ngeri untuk melangkah selangkah lagi.

''kenapa sih gerbang ini tidak di cat warna pink saja? dan di hiasi pita warna warni di  atasnya. Mungkin akan membuat aku lebih tenang dan tak se tegang ini''.lagi lagi aku berhayal nakal
dalam hati.

Selangkah , dua langkah, dan akhirnya sampai di lebih dari 50 langkah. Seolah olah aku ini pengukur jalan yang serius yang tahu sudah berapa langkah kaki ku. Aku merasa seperti alien yang baru turun
dari UVO nya. Mata-mata itu mulai beralih padaku seolah-olah aku adalah suku bangsa Na'vy yang turun dari Pandora.

           Lorong yang yang tak berapa panjang itu kurasa sangat panjang sperti jembatan Suramadu. Bukan model, tapi aku berjalan seperti di atas catwalk yang di sisi sisinya. Cukup bersyukur tak ada kamera yang mengabadikan oarng tampan ini #plaaaakkk . Banyak orang yang menyaksikannya. Belum selesai aku menyembunyikan wajah merahku akhirnya aku berhenti di depan pintu yang di atasnya bertuliskan ''RUANG KEPLA SEKOLAH''. Hatiku menjadi lega seperti habis ejakulasi #ehhh???.  ''syukurlah'' bisikku pelan sambil tersenyum.

Aku di antar pak kepala sekolah menuju ruang kelasku X3. Saat itu keadaan belum masuk kelas sehingga aku sedikit tertolong karena aku tidak terlalu mencolok dan masih belum banyak murid murid. Salah seorang siswi berkacamata dan memakai behel menyambutku dan mengantarkanku ke tempat dudukku. Ini seperti ritual pindahan anak TK saja. Gadis manis namun
berpenampilan cupu.

''makasih nia'' senyumku manis  padanya.
''kok kamu tahu namaku'' dia terperanjat heran.
''di seragammu kan ada namanya'' jelasku.
''oh...iya..hehe'' balas nia.

           Sepatah dua patah kata perkenalanku dengan nia selesai. Awal yang tidak terlalu buruk aku pikir. Aku menaikkan alis. Keadaan kelas masih kacau. Para siswa masih sibuk dengan lidah mereka masing masing. Gadis yang duduk di depanku , penampilannya begitu cuek dan
selalu membawa kipas plastik warna oranye. Cowok tinggi besar itu, dia terlihat menggoda temannya . Dan Nia ku perhatikan sibuk dengan buku tulisnya, sepertinya dia anak yang cerdas. Di tengah keadaan kelas yang tak karuan, sosok murid laki - laki yang tampak mencolok. Bukan karena pakainnya yang putih itu tapi dia ttampak paling tenang sendiri sambil membaca...KOMIK
manga??!!.

           Aku tau persis gimana tipe-tipe orang yang suka baca komik. Tubuhnya tinggi dan kurus,
kulitnya begitu putih bersih, di atas bibir merahnya yang tipis,segurat kumis yang
transparan tampak menambah kesan yang baik. Kacamatanya tak jauh beda dengan yang aku pakai.
''ah...kenapa aku tiba2 begitu
pintar menilai? seperti Psikolog aja , atau dukun ? '' , Bodoh nya diriku seperti membicarakan diri sendiri. Bukan nya penampilannya tak jauh beda denganku?.  pikirku sambil menggelengkan kepalaku mengamati alien itu.  Sebenarnya tak berniat untuk mengamati, tapi aku tertarik pada komik yang di bacanya berjudul ''silver valkyries''. Aku pernah punya komik itu saat aku masih SMP dulu. boleh di bilang itu komik terbaik yang pernah aku baca. Mungkin ini sebuah tanda? #eh?.

**
         Ke esokan paginya aku datanglebih awal. Tampak halaman sekolah masih terisi dua tiga orang
saja. Karena tak tahu tempat yang pas aku memutuskan ke kelas. Dua meter sebelum membuka
pintu sedikit ku tengok dari luar. Di tempat kursi paling pojok, sambil membaca komik dan
headset terpasang di telinganya. Orang itu tampak terlalu terbawa suasana musik sehingga dia
meneriakan suara paraunya dengan keras sambil tangannya mengetuk2 meja
''si alien itu'' Gumamku.
Aku masuk berusaha menarik perhatian nya. Maksud nya, supaya dia menyadari kedatanganku dan segera menghentikan tingkah aneh nya itu. Si alien itu belum menyadari kedatanganku. Sampai akhirnya dia menyadarinya dan buru-buru melepas headsetnya dan menghentikan gerakan ala
medusa nya. Dia tersenyum manis ke arahku me mamerkan susunan gigi giginya yang rapi. Tanpa melihatnya tuk kedua kali dia menuju tempat dudukku. Si alien berdiri dan sekonyong konyong menghampiriku .

''pidahan dari mana mas?'' suara basah mengagetkanku yang sebenar nya aku tak kaget.
''dari malang mas'' jwabku.
''Reza'' sembari si alien mengulurkan tangannya.
''Aldy'' jwabku singkat.
Sampai akhirnya kita terlibat obrolan ringan ke sana kemari. Mulai dari hal-hal yang menurutku basi sampai cerita tentang sekolahku dulu. Tak luput juga aku menanyakan tentang komik yang kemarin dia sempat baca. Dia tampak antusias membicarakan komik itu. Dan karena aku juga pernah membaca nya, kita pun nyambung membahas nya. Dari cara bicara nya , dia teman yang baik, dia pintar dan mudah paham dan dia juga tampan #hadeeehhh.

Wajar saja karena di sekolah ini berisi anak-anak cerdas. Apa aku terlihat sedang memuji diriku sendiri?.

        Bel berbunyi, para siswa berbondong-bondong masuk. Duduk di sebelahku seorang siswi manis dan imut .

''hai'' aku menyapanya.
''hai,kamu pindahan dari malang  itu ya''
''iya, aku aldy,kalo kamu?''
''lupita'' jawabnya dengan senyuman termanisnya.
''oya,aku pikir kemarin aku duduk sendirian, bukannya kemarin
kamu nggak ada?'' tanyaku heran.
''aku kemarin absen,aku pergi
keluar kota'' jelasnya.

aku dari kemarin memang tidak melihat dia duduk di sebelah ku. aku pikir aku duduk sendirian. Layaknya perkenalan yang  standard, kita ngobrol segala hal. Akrab dengannya tidak begitu
sulit. Di memuji rambut emasku ,dia juga memuji jariku yang runcing. Lupita cantik sekali. Beruntung sekali aku bisa duduk sebangku dengan gadis secantik dia. Seperti nya ber adaptasi dengan penghuni sekolah ini akan menjadi hal yang mudah. ini seperti sebuah pengecualian. Anak anak Banyuwangi memang ramah-ramah dan sederhana. Tidak berlebihan.

        Hari-hari sekolah ku jalani seperti biasa. Sedikit cerita- cerita perkenalan seperti hanya sebuah intermezzo yang nantinya akan ku sadari bahwa aku tak se canggung itu.

        Sebulan sudah aku melewati hari hariku di sekolah baru ini. Ternyata tak susah akrab dengan
mereka. Mereka sopan-sopan dan rajin. Singkat cerita, aku pun akrab dengan dua orang murid, ya
benar... Reza dan Lupita. Aku tak merasa orang asing di dekat mereka. Kita sering ke kantin bareng.
Bahkan yang dulunya antara lupita dan reza tidak akrab, kini mereka terlihat akrab. Saat makan di kantin bersama seperti ini. Aku ingat saat aku makan di kantin bersama dua sahabatku Intan dan Rudy di Malang. Sepertinya ada pengganti mereka di sini. Aku semakin suka sekolah di sini dan menjalani hari-hari dan bulan bulan berikut nya.
*************************                   KOST              ****************************
Ulangan semster telah berlalu  sejak 4 hari lalu. Aku pikir pikir, kasihan juga mas Firman yang tiap pagi selalu mengantarku. Padahal dia masuk kantor jam 8 , sedangkan aku harus di antar jam stengah
tujuh. Rasanya dia harus menempuh dua kali perjalanan. Akhirnya aku berinisiatif nge kost. Tanpa butuh waktu lama akhirnya aku dapat tempat kost tak jauh dari sekolahku. Aku ngekost di sebuah rumah milik ibu janda. Dia seorang guru SD dan punya anak perempuan yg sekarang duduk di
kelas 3 smp. Sebenarnya itu bukan tempat kost, itu hanya rumah biasa. Tapi ibu itu menawariku saat aku mencari cari kost di depan rumahnya. Tak apalah, dengan begini aku bisa tenang tanpa ada suara berisik dari anak-anak kost yang bermain gitar dengan suara-suara jelek mereka saat malam tiba.

''Kamar yang buruk'' bisikku dalam hati setelah memasuki kamar baruku.
Dinding ber cat putih tampak penuh dengan coretan coretan gravity yang buruk. Poster-poster tua pemain barcelona  tampak memudar warnanya. Namun tempat ini begitu nyaman. Sejuk dan luas dengan tempat tidur yang luas pula. Aku langsung merebahkan diri di kasur tanpa membuka tasku terlebih dahulu dan melemparnya begitu saja. Ternyata di sini memang tempat kost yang dahulu ada penghuni nya.

          Sunyi sekali...sama saat aku pertama datang ke kota inibeberapa  bulan lalu.

          PR ku telah selesai. Aku segra beranjak keluar untuk mencari makan malam. Tak jauh dari kost , hanya menyebrang jalan , warung kecil milik bu Dewi selalu ramai oleh pembeli. Kebanyakan dari mereka adalah anak kost juga. Mereka bergerombol dengan teman temannya. Duduk ala orang warungan dengan satu kaki di naikkan ke atas kursi. Menyantap gorengan dengan rakus nya. Aku cukup memesan nasi bungkus . Aku tak pernah memakan makananku di warung itu. Karena terlalu ramai dan lagi pula aku hanya sendirian tanpa teman. Ku bawa bungkusan yg di berikan bu Dewi itu ke kost dan menghabiskannya tanpa ampun. Ketika malam tiba aku hanya mengerjakan PR dan sesekali ke rental PS atau warnet untuk mengusir jenuh di kamar. Kadang saat malam tiba, itu saat nya penyakit galau tiba.

         Begitulah kehidupan sehari-hari ku di kost yang tak terasa sudah ku jalani beberapa bulan. Pulang sekolah aku hanya bisa belajar sendirian di kamar. Stelah itu tidur. Dan menjelang magrib aku mandi. Dan malamnya aku cari makan sendirian seperti kelelawar yang tersesat.
    

Malam itu, aku duduk di balkon kost ku. Tempat kost ku memang dua lantai. Namun di lantai atas seperti sudah lama tak terpakai. Biasa nya aku suka membaca di situ dimana aku juga bisa melihat pemandangan jalan raya dari situ . Sndiri menatap langit yang hanya ada sedikit bintang.  Berbulan bulan aku tinggal di kost ini dan selalu kesunyian yang ku dapati tiap malam. Bahkan saking parah nya aku merasa tak pernah merasa  kesunyian ,karena kesunyian itu sudah seperti  temanku. Ini sungguh menyedihkan . Terkadang, aku SMS teman-temanku tiap malam. Mungkin karena seringnya aku sms mereka,sehingga lama lama mereka jarang membalas pesanku.

''hmm...tak lama lagi aku kelas 2. Waktu begitu cepat , rasanya baru kemarin aku pindah kesini'' lamunanku dalam hati.

Aku iri setiap melihat anak-anak berjalan dengan teman-teman nya. Tak sperti aku kemana mana harus sendirian. Dari sekolahku jarang sekali yang nge kost. Walaupun ada tapi teman sekelasku tak ada yng nge kost. Padahal yang akrab dengan ku sebagian besar ya temen se kelas ku.

          Ku buka hp ku dan ku cari foto-foto  bersama teman-teman ku saat di malang. '' Teman-teman , aku rindu sekali. Tanpa kalian aku merasa tak berkawan. malam ini, apa kalian juga merindukan aku?, mungkin tidak, kalian sudah mendapat teman teman baru dan perlahan-lahan  melupakanku''

sedih sekali aku malam ini, sampai-sampai tak ku sadari aku menangis menatap foto mereka.

***

           Sabtu sore, aku terbangun dari tidur siangku selama dua jam. Aku harus buru buru mandi dan segera mudik kerumah. mungkin istilah mudik itu terlalu aneh ya? , pulang kampung lah. sudah jadi tradisi anak SMA kost yang di lakukan tiap minggu . Kadang saking sepinya kamar ini, aku berharap
cepat cepat hari sabtu. Aku bisa pulang ke rumah. Bertemu si kecil Tito yang manja padaku. Hanya dia obat stress ku saat aku malas tersenyum.
Tok..tok...tok
Pintu kamar terketuk dan segera ku buka. Ternyata ibu kost .

''ada apa bu?'' tanyaku
''oya nak Aldy, hari senin pagi ada yang
mau kost di sini '' ucap ibu kost yang kedengaran nya sangat to the point. kenapa ibu kost ga basa basi dikit.
''hari senin?''
''iya ,makanya kamu beres beres kamar ya sebelum dia datang''
''iya bu'' jawabku singkat.
Bu kost segera berlalu menuju kandangnya.

Ah.... Teman kost? , Aku harus seneng atau malah sedih. Aku senang karena aku bakal ada teman. Tapi aku kurang senang karena privasiku akan sedikit terganggu. Tapi bagaimana lagi, harus aku terima.
         
             Karena waktu sudah sore,aku tak segera membereskan kamarku yang sperti kapal pecah itu. , aku pikir bukankah anak baru itu datang senin pagi? Jadi lebih baik besok sore saja aku bereskan. Sudah sore....saatnya mudik :) .

            Ku habis kan waktu di rumah dengan mencuci baju, mengunjungi kebunku dan memanen pohon rambutan bersama teman-teman rumah. Minggu yang cerah, teman-teman mengajakku
memancing di sungai. Itulah mengapa aku suka saat mudik. Di rumah aku tak pernah kekurangan
teman. Tak seperti di kost yang seperti pemakaman. Kita mancing ber lima , seusai mancing , temenku Arif mengejak kita untuk mampir ke sawah nya. Di sana kita ber pesta kelapa muda segar. Wah, untuk mendapatkan kelapa muda kita harus manjat pohon kelapa. Dan tak beruntung nya aku ketika setelah di undi aku lah yang di tugas kan manjat. Untung pohon kelapa, bukan pohon pisang :p .  Mungkin masing masing dari kita menghabiskan 2 butir kelapa muda. Suasana sawah yang hijau , pancuran air dari pipa bambu membuat kita betah bertahan lama lama disini. Khusus nya aku yang sudah tak lama menikmati suasa na seperti ini.
       Tak terasa  waktu udah menunjukkan pukul 3 sore. Aku pun buru buru pulang untuk segera kembali ke kost dan membereskan kamar. Mengingat  bahwa akan ada anak kost baru yang sekamar dengan ku. Pukul 16.30 aku sudah sampai di tempat kost ku. Aku sedikit terkejut saat memasuki kamarku. Kamarku sudah rapi dan bersih. Baju-baju ku yang berantakan juga sudah terlipat rapi.
"Ah...ini pasti ibu kost yang beres beres" dalam hati aku bertanya - tanya. Aku merasa tak enak sendiri. Padahal aku janji aku yang akan membereskan.
         
          Tak peduli apa yang terjadi, ku taruh saja tas ku di sebelah lemari dan ku lempar badanku ke atas kasur.
Krieeeett...decit pintu tua kamarku. Seseorang membukanya. Sesosok orang asing berdiri di pintu. Dengan rambut yang masih basah dan handuk di lehernya dan masih bertelanjang dada. seolah-olah memperlihatkan otot ototnya yang padat. Orang itu membuatku terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, biasanya tak pernah ada satu orangpun yang masuk kamarku.
''hoi..bro!!'' sapa anak itu,spertinya dia terkejut menyadari aku sudah di kamar. Aku segera bangkit dari tidurku dan menyapanya balik .

''hoi'' singkatku.
''kamu Aldy ya?, aku Ardan bro,pasti udah di ceritain bu kost
kan?''
''oh...iya,tapi katanya kamu
datangnya hari senin?''
''iya bro,aku putuskan datang
sekarang aja , soalnya kalau besok musti buru-buru kan berangkat sekolah''
jelas ardan padaku.
''hmm...jadi kamu yang beresin kamar bro?'' tanyaku heran.
''iya bro,maaf kalo masih berantakan''
''wah kalo ini mah terlampau rapi bro,weh...jadi malu aku,kemarin kamarku kaya kapal pecah''
terangku sambil senyum malu.
''haha...nyantai aja bro,paling kalo sama aku besok juga kaya kapal pecah lagi'' dia bercanda sambil
cengengesan.

        Dia itu Ardan. Entah siapa nama lengkap nya. Dia baru saja nge kost di tempatku. Ardan adalah siswa kelas dua di SMA 2. Kebetulan SMA 2 tak jauh dari sekolahku SMA 1. Ardan anak nya baik, dia juga tampak memiliki wajahKita seumuran. Aku juga kelas 2 sekarang, ya tepatnya 2 minggu lalu stelah kenaikan kelas. Dari gaya bicaranya dia orang yang cuek dan suka ceplas ceplos. Kulit nya yang aga gelap terlihat serasi dengan badannya yang tinggi dan sedikit kekar. Rambut nya yang sedikit bergelombang itu juga serasi dengan kontur wajahnya. Dan senyumnya , mungkin ibarat gula di tambah madu,di tambah permen,di tambah coklat. Saking manisnya mungkin sampai belepotan di bibirnya. Alisnya yang tebal itu nyaris bertemu antara alis satu dengan yg satunya.  Lagi lagi aku harus pandai mengamati nya. Mungkin dia kalau masalah fisik benar benar dia itu pujaan wanita.  Namun ada satu hal yang membuatku sedikit tak nyaman. Di itu perokok. Bisa di bayangkan kamarku akan selalu ada asap rokok. Macho sih macho tapi semoga merokoknya tidak benar-benar menyiksaku.

          Sesi introducing ku dengannya terlewati. Kita banyak ngobrol saling bertanya tempat tinggal. Dia tinggal di Banyuwangi selatan yaitu di Srono. Entah di mana srono itu aku hanya mengangguk
angguk pura pura paham saat dia menjelaskan. Ardan begitu pandai bermain gitar walau suaranya
begitu memekakkan telinga. Dia menjelaskan alasan kost nya karena capek harus pulang pergi dari
rumahnya.

         Malam itu ardan mengajakku keluar untuk cari makan malam. Dia mengajakku di warung bu
Dewi. Sangat berkesan sekali bagi ku . Ini pertama kali nya aku memakan makananku di tempat
itu. Ya...karena sekarang ada teman jadi aku tak perlu malu lagi. Sepanjang makan malam kami, seperti biasa ardan begitu suka menceritakan pengalamannya sendiri. Mulai dari keluarganya
yang broken home. Sampai dia putus dengan gadis pujaan hatinya. aku tak terlalu memperhatikan pembicaraannya, namun aku pasang tampang seriusku yang sebenarnya itu
adalah topengku.
''oh broo....can we start the dinner?'' gerutuku dalam hati.

          Aku dan dia mudah sekali akrab. Sepulang makan dia masih sempat mengajakku main PS di rental. Dua jam aku main ps dengannya yang membuat mataku terasa sepat sepat jeli. Kita pun jalan pulang ke kost .

''kau ngantuk Dy?'' tanya Ardan di sepanjang perjalanannya yang spertinya memperhatikan aku yg
ngantuk berat.
''ga ngantuk-ngantuk banget sih Dan'' jawabku. Dia sudah bisa memanggil namaku tanpa menggunakan kata Bro lagi. aku pun ya mengimbangi nya.

            Sesampai di kost tanpa buang waktu aku mebanting badan ke kasur. Namun tetap aku tak bisa
tidur karena udara di kamar begitu panas. Biasanya aku tidur di kamarku sendiri bertelanjang dada untuk mengusir hawa panas. Tapi kali ini aku tdiak bisa sebebas itu. Aku harus bersikap lebih sopan karena bagaimanapun kita tidur satu tempat tidur. Ardan tampak paham akan tingkahku yang sering membolak balik badan tak tenang karena panas.
''kamu gerah ya bro?'' tanya ardan padaku.
''iya bro..hehe..tapi udah biasa''
''aku juga gerah banget,boleh ga bro aku buka baju?''
''ha?baru aja aku hendak meminta saran itu ke kamu bro, soalnya aku biasanya tidur juga nggak pake baju'' terangku.
''ya okelah kalo begitu bro'' balas ardan sambil tersenyum manis.

             Well, biarpun sama sama cowok aku tetap merasa tidak nyaman.
''badan mu putih banget bro'' kata ardan tiba tiba.
''badanmu item banget bro'' bales ku bercanda. Dia malah tertawa dan memukul pelan lenganku.
''biarin,yang penting kan cewek cewek suka wkwkwk'' dia membela diri.

             Aku yang sedikit ngilu atas pukulan kecilnya tadi membalasnya, dia balik membalas,aku balas,di balas lagi. Sambil terbahak-bahak sampai sampai ibu kost teriak dari luar .

''hoi,jangan rame udah malem''  teriak ibu kost.

            Seketika aku dan ardan menutup mulut sambil menahan tawa. Akhirnya kita tertidur. Aku merasa senang malam ini. Aku ada teman ngobrol dan bercanda. Syukurlah...:) .

            Sejak kehadiran Ardan, hari hariku selalu penuh tawa dan ceria. Sikapnya yang cuek dan kadang tak tahu malu itu malah membuatku kagum padanya. Dia tak perlu susah susah menyesuaikan diri dgn tempat baru. Tak seperti aku yang cenderung terlalu sopan yang malah membuat aku kesulitan beradaptasi.

            Bagaimanapun dia , merupakan sosok teman baru . Dia yang akan menemani ku mengisi sebuah cerita masa SMA 2008 . sampai saat di mana kita akan di pisahkan jalan kita masing masing. Terlalu jauh memikirkan itu. ah.... memang sebenar nya tak peduli. faktanya, dia teman kost ku yang menyenangkan.

           Tak terasa sebulan lebih sudah aku dan Ardan kost bersama. Kita sudah seperti sahabat sejati saja. Tiap aku ada masalah dia selalu menolongku. Ya walaupun hal hal kecil ketika beresin kamar , nyuci baju dan lain lain. Pernah juga dia aku mintai tolong mengambilkan buku PR ku yang tertinggal di kost. Dia rela mengantarkan nya sampai depan sekolah hanya jalan kaki doank. Begitupun sebaliknya, tiap malam kita bermain kartu uno, dan sebagai hukuman nya harus minum air putih bagi yang kalah. Dia juga tiap malam mengajariku bermain gitar. Kadang dia tampak kesal
dengan ku yang susah sekali untuk bisa bermain gitar. Tapi dia tetap tersenyum. Saat itu dia baru beli
HP dengan fitur kamera. Tentu saja jaman itu punya hp kamera adalah hal yang mewah. Dia sangat
senang punya hp itu. Dia jeprat jepret sana sini dengan kamera barunya itu. Langit , kamar , cermin , bahkan bantal sering jadi sasaran kamera nya. Kadang dia suka
menggodaku , sering memotretku tiba-tiba. Kadang sebelum tidur pun dia sempat mengambil gambar
kita berdua. Bahkan pernah ku dapati foto ku saat tidur di ponsel nya itu . bener bener iseng. Segera ku hapus .

           Ardan,tak bisa lepas dari kamera nya. Tapi ku biarkan saja karena dengan kamera barunya malah membuat kita semakin akrab dan gokil.

''eh,bro!,denger denger besok ada konser nya Nidji ya di kota?'' tanya nya tiba-tiba.
''iya bro,katanya sih gitu''
''kita nonton yuk'' ajaknya.
''tapi kan kita ga punya kendaraan bro''
''kita jalan kaki aja,oke?'' ,
''ah , gila kau bro. dari sini ke Kota kan lumayan jauh kalo jalan kaki'' '' siapa juga yang bilang kita jalan kaki?'' , kata Ardan yang membuatku bertanya-tanya.
''terus?'' aku penasaran.
''naik Sandal '' jawab ardan enteng.
''............................'' aku nggak bia berkata, hanya mendarat kan bantal di wajah nya.
''hmmmm...oke deh terserah, tapi kalo aku pinsan kamu harus tanggung jawab''
'' iya bro, tar aku gendong deh kamu sampe kost haha'' jawab ardan sambil ketawa.
''siiiip kalo gitu'' tegasku.

             Sudah saatnya tidur , pemandangan sperti biasanya. Kamar yang berantkan. Selimut yang tak
terpakai dan aroma keringatku dan ardan memenuhi kamar. Tapi entah kenapa aku dan Ardan merasa ini adalah kamar ter nyaman sedunia. Tapi jangan harap setelah lampu di matikan kenyaman tidur ku tak ter usik. kalo dia mematikan lampu, lalu dia entah bersembunyi lalu gelitik
leher ku dan dia sembunyi lagi entah di mana. kadang aku sampe merasa menyerah bercanda dengan nya yang seperti anak kecil. Kalo sudah malem tiba dia memang sperti anak kecil yang suka bercanda. Tak jarang ibu kost sering kesal karena kita sering gaduh di kamar.

'' udah ah broooo, pokok nya udah aku nyerah!!, ampuuuun!! '' teriak ku kesal gara gara dari tadi dia nggelitikin sampai perutku kram. tentu saja aku tak bisa banyak membela diri karena tenaga nya lebih kuat dari ku.
'' ada syarat nya bro" kata Ardan.
''apa?''
'' besok pulang lihat konser , kamu harus pijitin aku''
''ogahhhh.... enak aja'' bantah ku ke dia sambil menjulurkan lidah ku bercanda.
''oke kalo gitu '' dia menjawab enteng sambil meregang kan otot otot jarinya dan siap menggelitikku lagi.
''eh iya iya iya deh ah, terserah kamu aja. udah aku ngantuk'' aku yang tak punya jawaban lain.

         Kamar kembali sunyi. Tak ada satu pun  suara dan cahaya. Dia begitu dekat tidur nya dengan ku. Lengan kekar nya selalu melekat di lengan ku. Dia balik kan badan nya menghadapku dan tiba tiba mencium keningku. Aku nyaris tak percaya apa yang terjadi. aku dia me matung. sementara dia membalikan badan nya lagi dan bersikap seolah olah dia tak melakukan apa apa.

      Entah apa maksud nya itu. Kenapa dia melakukan nya?. Berani nya dia membuatku tak nyenyak tidur malam ini. Sementara ku lihat dia sudah lelap dengan dengkuran halus nya. Ku tatap dia lekat-lekat , aku benar benar tak bisa berkata-kata selain tersenyum bahagia. Bahagia karena sudah tidak ada kata kesepian lagi. Terimakasih kawan, terimakasih Ardan. Ku kecup lengan nya dengan lembut. itu impas walau aku tak punya keberanian mengecup kening nya.

*******************************  KONSER *********************************
          Kamis petang, aku dan Ardan siap siap menuju kota untuk nonton konser. Sebenarnya jaraknya tak begitu jauh dari tempat kost. Sekitar 3-4km dari kost menuju stadion diponegoro tempat konser berlangsung. Sepanjang perjalanan ada saja tingkah Ardan. Mungkin dia sengaja membuatku semangat dengan lelucon lelucon nya. Karena aku ini tak terbiasa berjalan sejauh ini.

          Di trotoar itu, Ardan mempercepat langkahnya mendahului ku. Menyiapkan kameranya dan siap membidikku
''hentikan ah broo...!!'' teriakku  padanya sambil menutup wajahku.
Namun dasar ardan, tetap aja jeprat jepret ke arahku. tiba2 merangkul pundakku dan jepret lagi kameranya. Ah,itu gaya anak alay. kadang nenek nenek yang sedang jalan di sapanya
''hai cewek''. Membuatku tertawa terus. Tingkah nya yang sperti orang gila itu memang sangat membantu.

          Tak terasa kita sampai di tempat konser. Tanpa tunggu lama kita langsung membeli tiket. Saat Nidji mengalunkan lagu pertamanya yang berjudul hapus aku , kontan suasana jadi riuh. Ardan si gila
mulai menari nari seperti orang mabok. Aku tak terbiasa seperti itu namun Ardan menarikku dan
memaksa aku loncat loncat. Lama lama aku terbawa suasana seru ini. Lapangan yang tak jauh beda
dengan sawah karena becek tak menyurutkan semangat untuk terus loncat2. Sejenak aku berhenti
dan terdiam, ku perhatikan wajah ardan yang begitu ceria. Di tengah kerumunan. Aku pun bergumam dalam hati dan bersyukur.
''ya Allah, terimakasih kau memberiku teman sperti dia, dekat dengannya aku merasa berhak untuk punya teman''  gumamku dalam hati sambil senyum.

''wooiiii!!!!, ayo broo jangan diemaja'' teriak ardan membuyarkan lamunanku. Okay....malam ini
saatnya bersenang senang. Just making the most of life!!! Yeahhh!!!

  ***************************   BOLOS  ****************************************
           Ke esokan paginya, aku dan ardan sudah tak bisa bangun pagi. Dan kita terpaksa membolos
sekolah. Ini pertama kalinya aku bolos sekolah. Tapi anehnya aku merasa tak ada beban. Karena merasa bosan di kost, Ardan mengajakku jalan-jalan ke suatu tempat bernama Kalibendo. Aku sering denger nama tempat itu tapi aku tak pernah ke tempat itu.

          Dengan motor pinjeman ke teman Ardan, kita tancap gas kesana.Ardan yang di depan menyetir
motor. Karena aku memang tidak tahu tempatnya. Ah..rasanya cukup tidak  nyaman juga  saat jam sekolah seperti ini keluar. Takut ketahuan teman atau guru yang tak sengaja lewat. Tapi aku tak peduli dan lupaakan hal itu saat melihat semangat Ardan. Kalibendo adalah agrowisata yang sejuk, sungai yang bening di kelilingi perkebunan karet dan cengkih. Sesampai di sana kita tak basa basi lagi langsung menuju tempat teratas, ke tempat air terjun. Jalannya benar benar sulit di lalui, bukit,sungai dan batu2 kali jadi jalan setapak kami. Akhirnya dengan susah kita sampai juga di tempat yang indah.

         Jauh darinpemukiman, tempat ini nyaris tak terjangkau. Dan tak ada satu orang pun saat itu hanya aku dan Ardan.
''mandi yok bro'' ajak ardan
''entahlah bro,airnya dingin gini..''kataku ragu
''ah...udah ayo ah..!!'' paksa ardan sambil hendak menurunkan celanaku dengan paksa sambil
bercanda
''iya iya bro..ahh!!'' akhirnya aku nyerah dan terpaksa mandi.

Karena tak ada orang, kita mandi cuma pakai celana dalam saja.Ah..masa bodoh, memang tak ada
orang kok.

        Rasanya tempat itu seperti di surga. Tebing yang di penuhi akar-akar pohon, suara air
yang menenangkan. Serta kicauan burung yang sangat merdu. Mungkin bagi ardan ini tempat
yang luar biasa. Karena dia bilang dia tak pernah ke tempat seindah
ini.
         Saling dorong, saling melempar pasir, dan tak lupa kamera hp nya mulai beraksi. Ada pose di atas batu, di belakang air terjun, dan foto bareng di bawah akar pohon. Sudah tak bisa di
hitung berapa banyak moment yang terekam. Bahkan ada pose dimana dia berakting seperti foto model yang sedang mandi dan sedikit menurunkan celana dalam nya. sehingga Bulu-bulu itu sedikit terlihat . bener bener gila dan membuatku tak berhenti tertawa.
         
          Setelah sekitar 1jam lebih , akhirnyakita akhiri mandi kita. Tampak bibir merahku sudah  membiru. Begitu juga Ardan yang menggertakan giginya karena kedinginan. Saatnya pulang.

           Lagi lagi melewati jalan yang sangat menyebalkan ini. Saat hendak menuruni jalan tanah yang becek , aku kehilangan keseimbangan dan karena tak ada jalan aku terpaksa lompat ke sungai yang dangkal. Sungguh tak beruntungnya aku. Kakiku terkena pecahan botol. Sepertinya tertancap dalam.
Terasa nyeri dan darah keluar banyak. Ardan yang kaget segera
menolongku dan menarikku.
''eh bro...kamu nggak apa apa? Kok iso tho? '' tanya ardan khawatir dengan bahasa jawanya.
''ga ngerti aku bro'' jawabku sambil merintih kesakitan
''aduh..kakimu berdarah bro, gimana ni''
''udah gpp bro,cuma luka dikit'' alasanku.
Tak di pungkiri memang sakit. Aku nyaris tak bisa berjalan. Akhirnya Ardan yang baik memapahku juga. Walaupun kasihan padanya yang terlihat susah payah memapahku. Dia merangkul pundakku dan aku pun merangkul pundaknya. Tentu itu hal yang berat baginya. Tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tak bisa jalan.
''bro,maafin aku ya..gara-gara  aku ngajak kesini, kamu jadi luka kaya gini'' kata ardan pelan penuh
penyesalan.
''sudahlah bro,santai aja. Justru aku yg minta maaf , gara gara aku,acaara jalan-jalan mu jadi terganggu'' jelasku.

           Akhirnya sampai juga di tempat parkir. Terpaksa , kembali Ardan yang menyetir karena  kakiku sakit. Padahal awalnya aku sudah janji kalo pulangnya aku yang di depan.

           Di sepanjang perjalanan,aku merintih kesakitan sekaligus kedinginan.
''kamu kedinginan ya bro?,masukin aja tanganmu ke jaket ku''
''nggak kok bro '' jawabku.
Tanpa berkata, dia meraih tanganku dan menaruhkan nya di saku jaket nya. Memang sangat dingin. Tepat di jalan , tiba-tiba  hujan turun membuat kita terpaksa berteduh. Akhirnya kita berhenti di sebuah gubuk petani di pinggir jalan. Padahal ingin cepat cepat sampai tapi hujan menghalangi.
Aku makin terlihat kedinginan dan ardan menyadarinya.
''pake jaketku ni bro'' dia membrikan jaketnya.
''ah ga usah bro'' jawabku. Dia mendesak namun aku juga
tetap memaksa menolaknya.

           Ujan yang tak kunjung reda. Akhirnya kita putuskan untuk menerjangnya. Di sepanjang jalan
lagi  , aku hanya tersenyum sendiri di belakangnya.
''kau nggak tahu bro, sebenrnya sakit ini tak begitu ku rasakan jika denganmu'' ucapku
dalam hati sambil tersenyum sndiri.
Sekitar 30 enit aku kita sampai di kost . segera kita mengganti pakaian kita yang basah dan segera naik ke kasur.
          
          tak seperti biasa nya kamar ini begitu terasa dingin . Kita tidur berbagi selimut. Padahal jarang sekali kita tidur memakai selimut .
''met tidur ya bro '' ucap ardan lirih sambil mengecup keningku.


****************************   UANG ARDAN  ************************
BERSAMBUNG ke chapter 2

1 komentar: